Loading

Laporan Praktikum Ekologi Tanaman "Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kangkung"

PENDAHULUAN



Latar Belakang
Tanaman kangkung berasal dari India, yang kemudian menyebar ke Malaysia, Birma, Indonesia, China Selatan, Australia, dan Afrika. Di China, sayuran ini dikenal dengan nama weng cai. Di negara Eropa, kangkung biasa disebut swamp cabbage, water convovulus, atau water spinach (Suyono, 1997).
Sementara di Indonesia, kangkung bisa ditemukan di hampir seluruh daerah. Bahkan, di Kecamatan Muting Kabupaten Merauke, Papua, kangkung merupakan lumbung hidup sehari-hari bagi masyarakatnya. Di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar, kangkung darat banyak ditanam penduduk untuk dikonsumsi sendiri maupun dijual ke pasar(Suyono, 1997).
Kangkung termasuk suku Convolvulaceae atau keluarga kangkung-kangkungan. Merupakan tanaman yang tumbuh cepat dan memberikan hasil dalam waktu 4-6 minggu sejak dari benih. Dalam satu musim saja, kangkung bisa tumbuh dengan panjang 30-50 cm (Plantus, 2008).
Tanaman ini merambat di lumpur dan tempat-tempat yang basah, seperti tepi kali, rawa-rawa, atau terapung di atas air. Biasa ditemukan di dataran rendah hingga 1.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman bernama Latin Ipomoea reptans ini terdiri atas dua varietas, yakni kangkung darat yang disebut kangkung cina dan kangkung air yang tumbuh secara alami di sawah, rawa, atau parit (Rukmana, 1994).
Perbedaan antara kangkung darat dan kangkung air terletak pada warna bunga. Kangkung air berbunga putih kemerah-merahan, sedangkan kangkung darat berbunga putih bersih. Perbedaan lainnya pada bentuk daun dan batang. Kangkung air berbatang dan berdaun lebih besar daripada kangkung darat. Warna batangnya juga berbeda. Kangkung air berbatang hijau, sedangkan kangkung darat putih kehijau-hijauan. Lainnya, kebiasaan berbiji. Kangkung darat lebih banyak bijinya daripada kangkung air, itu sebabnya kangkung darat diperbanyak lewat biji, sedangkan kangkung air dengan stek pucuk batang (Plantus, 2008).
Tanaman ini berumur lebih dari setahun, menetap, menjalar atau membelit. Mengandung banyak vitamin A, C serta mineral terutama zat besi. Ada 2 jenis kangkung yang enak dimakan yaitu: Kangkung Darat, mempunyai daun-daun yang panjang dengan ujung runcing, berwarna hijau keputihan dan bunganya berwarna putih. Kangkung air yang mempunyai daun panjang dengan ujung yang agak tumpul berwarna hijau kelam dan bunganya berwarna putih keunguan (Wikipedia, 2007)
Kangkung (Ipomoea reptans) merupakan tanaman sayuran penting di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Sayuran ini mudah dibudidayakan dan berumur pendek. Selain untuk sayuran, kangkung yang mengandung senyawa tertentu juga bermanfaat dalam industri farmasi (Pupon, 1992).
Di Indonesia terdapat dua tipe kangkung, yaitu kangkung darat dan kangkung air. Kangkung darat tumbuh di lahan tegalan dan lahan sawah, sedangkan kangkung air tumbuh di air, baik air balong maupun air sungai. Kultivar lokal yang dikenal adalah kangkung Lombok dan kangkung Sukabumi, keduanya memiliki kualitas yang tinggi dengan ciri khas daun berwarna hijau muda cerah, menarik, dan lebar (biasanya jenis kangkung darat) serta batangnya renyah (Rukmana, 1994).

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kangkung.

Kegunaan Penelitian

Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal Test pada Praktikum Ekologi Tanaman yang sekaligus merupakan syarat kelulusan mata kuliah tersebut pada Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, dan juga sebagai bahan informasi bagi semua pihak yang membutuhkan.

Hipotesa
Terdapat pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman kangkung.









TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Kangkung
Kangkung termasuk suku Convolvulaceae (keluarga kangkung-kangkungan). Kedudukan tanaman kangkung dalam sistematika tumbuh-tumbuhan diklasifikasikan ke dalam:
Divisio : Spermatophyta
Sub-divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomoea
Species : Ipomoea reptans (Rukmana, 1994).

Morfologi Tanaman Kangkung
Selama fase pertumbuhannya, tanaman kangkung dapat berbunga, berbuah, dan berbiji, terutama jenis kangkung darat. Bentuk bunga seperti terompet, dan daun mahkota bunga berwarna putih atau merah lembayung (Ong, 2007).
Batang tanaman kangkung berbentuk bulat panjang, berbuku – buku, banyak mengandung air (herbaceous), dan berlubang – lubang. Batanng tanaman ini tumbuh merambat atau menjalar dan percabangannya banyak (Ong, 2007).
Tanaman kangkung memiliki sistem perakaran tunggang dan cabang – cabang akarnya menjalar ke semua arah, dapat menembus tanah sampai kedalaman 60 – 100 cm, dan melebar secara mendatar pada radius 100 – 150 cm atau lebih, terutama pada jenis kangkung air (Ong, 2007).
Tangkai daun melekat pada buku-buku batang dan di ketiak daunnya terdapat mata tunas yang dapat tumbuh menjadi percabangan baru (Ong, 2007).
Bentuk daun umumnya seperti jantung hati, ujung daun runcing ataupun tumpul, permukaan daun sebelah atas berwarna hijau tua, dan permukaan daun bagian bawah berwarna hijau muda (Ong, 2007).
Buah kangkung berbentuk bulat telur yang di dalamnya berisi tiga butir biji. Bentuk biji kangkung bersegi – segi atau agak bulat, berwarna coklat atau kehitam – hitaman, dan termasuk biji berkeping dua. Pada jenis kangkung darat, biji kangkung berfungsi sebagai alat perbanyakan tanaman secara generatif (Ong, 2007).

Syarat Tumbuh Tanaman Kangkung
Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000 mm/tahun.
Pada musim hujan tanaman kangkung pertumbuhannya sangat cepat dan subur, asalkan di sekelilingnya tidak tumbuh rumput liar. Dengan demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar, sehingga kangkung dapat tumbuh di padang rumput, kebun/ladang yang agak rimbun.
Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang. Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga disukai konsumen.
Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian tempat, setiap naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat C. Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen (Rukmana, 1994).
Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah. Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk. Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air. Tanaman kangkung membutuhkan tanah datar bagi pertumbuhannya, sebab tanah yang memiliki kelerengan tinggi tidak dapat mempertahankan kandungan air secara baik (Rukmana, 1994).
Kangkung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) ± 2000 meter dpl. Baik kangkung darat maupun kangkung air, kedua varietas tersebut dapat tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Hasilnya akan tetap sama asal jangan dicampur aduk (Rukmana, 1994).

Peranan Jarak Tanam
Pemanfaatan potensi sumberdaya lahan setempat secara optimal bagi tujuan pembangunan pertanian berkelanjutan dan salah satunya adalah dengan penerapan teknologi pengaturan jarak tanam. Ke-unggulan sistem ini dapat mempengaruhi populasi tanaman, efesien dalam penggunaan cahaya, menekan perkembangan hama penyakit dan mengurangi kompetisi tanaman dalam penggunaan air dan unsur hara (Musa et.al, 2007).
Upaya peningkatan produksi tanaman perluasan tertentu dapat dilakukan dengan meningkatkan populasi tanaman dengan jarak tanam turut mempengaruhi produk-tifitas tanaman. Kerapatan atau ukuran populasi tanaman sangat penting untuk memperoleh hasil yang optimal, tetapi bisa terjadi persaingan dalam hara, air dan ruang tumbuh serta mengurangi perkembangan tinggi dan kedalaman akar tanam-an (Musa et.al, 2007).
Pengaturan populasi tanaman melalui pengaturan jarak tanam pada suatu ta-naman akan mempengaruhi keefisienan tanaman dalam memanfaatkan matahari dan pesaingan tanaman dalam peman-faatan hara dan air yang pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman Dengan pengaturan jarak tanam yang baik, maka pemanfaatan ruang yang ada bagi pertumbuhan tanaman dan kapasitas penyangga terhadap peristiwa yang merugikan dapat diefesienkan. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka perlu melakukan kajian untuk mengetahui pengaruh sistem jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman (Musa et.al, 2007).



BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Jl. Tuar, Kecamatan Medan Amplas. Berlangsung mulai tanggal 08 Oktober 2009 sampai dengan 30 Nopember 2009.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih dari tanaman kangkung, dan pupuk.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, parang, pisau, dan alat ukur berupa meteran atau penggaris.

Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mengunakan Rancangan Acak Kelompok Non Faktorial (Randomized Blok Design) dengan satu faktor yang terdiri dari tiga taraf perlakuan yaitu :
1. Faktor Perlakuan (P), yaitu :
A1 : Jarak tanam 10 x 10 cm
A2 : Jarak tanam 10 x 15 cm
A3 : Jarak tanam 10 x 20 cm
Jumlah ulangan : 3 ulangan
Jumlah plot percobaan : 9 plot
Jumlah tanaman sampel per plot : 1 tanaman
Jumlah tanaman sampel seluruhnya : 9 tanaman
Luas areal percobaan : 100 cm x 200 cm
Dari hasil penelitian dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Beda Rataan menurut Duncan (DMRT).























PELAKSANAAN PENELITIAN

Pembuatan Plot
Dibuat plot dengan ukuran 1 x 2 m, sebanyak 3 ulangan, dan tiap ulangannya terdiri dari 3 perlakuan jarak tanam, yaitu A1, A2, dan A3. Jadi total plot yang dibuat adalah 9 plot.

Penanaman Benih
Benih yang sudah tersedia ditanam pada tiap-tiap plot, masing – masing plot disesuaikan dengan jarak tanamnya, yaitu 10 x 10 cm, 10 x 15 cm, dan 10 x 20 cm. Dan pada masing – masing lubang tanam diisi dengan 2 benih.

Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan minimal 1 kali dalam sehari, yaitu pada pagi hari atau sore hari. Penyiraman ini dilakukan agar pertumbuhan tanaman yang diteliti tidak terganggu, dan produksi yang dihasilkan lebih banyak.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan ketika tanaman yang diteliti ditumbuhi oleh gulma. Yaitu dilakukan secara manual menggunakan tangan dengan mencabut setiap gulma yang tumbuh disekitar tanaman yang diteliti (di dalam plot).
Penyisipan
Penyisipan dilakukan apabila terjadi kematian pada salah satu tanaman yang diteliti. Yaitu dengan cara mengambil tanaman dari tempat ataupun lahan tersendiri yang memang disediakan untuk tanaman sisipan, kemudian di tanam pada tempat dimana tanaman tersebut mati.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan guna menambah hara tanah agar tanaman kangkung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Jenis pupuk yang diberikan sesuai dengan fase pertumbuhannya dan dengan kadar yang sesuai. Pemupukan ini dilakukan dengan cara menaburkan pupuk pada sekitar tanaman di dalam plot.
Pengandalian Hama dan Penyakit
Pengendalian ini dilakukan apabila tanaman terserang oleh hama atau penyakit. Yaitu bisa dilakukan dengan cara mekanik ataupun kimia. Secara mekanik yaitu dengan mengusir / membuang langsung hama yang ada pada tanaman seperti ulat misalnya. Kemudian untuk pengendalian terhadap penyakit dapat dilakukan dengan cara kimia yaitu dengan memberikan pestisida.

Parameter Pengamatan
Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur tanaman kangkung dari atas permukaan tanah sampai pada titik tumbuh. Pengukuran dimulai pada saat tanaman berumur 5 minggu setelah tanam.

Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun dihitung dengan cara menghitung setiap daun (helai) yang telah terbuka secara sempurna yang tumbuh pada tanaman tersebut. Pengukuran dimulai pada saat tanaman berumur 5 minggu setelah tanam.
HASIL PENELITIAN

Tinggi tanaman
Dari hasil penelitian, maka diperoleh rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan A3 dengan rataan tingginya 28 cm. Sedangkan rataan tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan A1, dengan rataan tingginya 20 cm.

Jumlah daun
Dari hasil penelitian, maka diperoleh rataan jumlah daun terbanyak terdapat pada perlakuan A3, dengan rataan jumlah daunnya 16 helai. Sedangkan rataan jumlah daun paling kecil terdapat pada perlakuan A1, dengan rataan jumlah daunnya 11 helai.










PEMBAHASAN

Tinggi tanaman
Dari hasil penelitian yang diperoleh, pada tinggi tanaman didapati hasil yang tertinggi pada perlakuan A3 yaitu dengan jarak tanam 10 x 20 cm, dengan rata – rata tinggi tanaman 28 cm. Ini menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam 10 x 20 lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu 10 x 10 cm dan 10 x 15 cm. Hal tersebut dikarenakan jarak tanam yang lebih jarang dibandingkan dengan yang lainnya, dan menyebabkan persaingan diantara tanaman, baik itu berupa unsur hara, oksigen, ruang tumbuh, dan lainnya lebih sedikit dibandingkan jarak tanam yang lebih rapat, dan berakibat tumbuhan tersebut pertumbuhannya lebih bagus dibandingkan dengan jarak tanam yang lebih rapat.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Musa (2007) yang menyatakan bahwa kerapatan atau ukuran populasi tanaman sangat penting untuk memperoleh hasil yang optimal, tetapi bisa terjadi persaingan dalam hara, air dan ruang tumbuh serta mengurangi perkembangan tinggi dan kedalaman akar tanam-an.

Jumlah daun
Sedangkan pada jumlah daun, hasil yang terbanyak juga pada perlakuan A3, yaitu dengan jarak tanam 10 x 20 cm, dengan rata – rata jumlah daun 16 helai. Ini menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam 10 x 20 lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu 10 x 10 cm dan 10 x 15 cm. Hal tersebut dikarenakan jarak tanam yang lebih jarang dibandingkan dengan yang lainnya, dan menyebabkan persaingan diantara tanaman, baik itu berupa unsur hara, oksigen, ruang tumbuh, dan lainnya lebih sedikit dibandingkan jarak tanam yang lebih rapat, dan berakibat tumbuhan tersebut pertumbuhannya lebih bagus dibandingkan dengan jarak tanam yang lebih rapat.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Musa (2007) yang menyatakan bahwa pengaturan jarak tanam pada suatu ta-naman akan mempengaruhi keefisienan tanaman dalam memanfaatkan matahari dan pesaingan tanaman dalam peman-faatan hara dan air yang pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman.










KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian, lampiran / perhitungan, dan pembahasan, maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada tabel rataan tinggi tanaman, tinggi tanaman yang tertinggi pada perlakuan A3 (jarak tanam 10 x 20) dengan rataan tinggi tanaman 28 cm. Dan yang terendah pada perlakuan A1 (jarak tanam 10 x 10) dengan rataan tinggi tanaman 24 cm.
2. Pada tabel rataan jumlah daun, jumlah daun yang terbanyak pada perlakuan A3 (jarak tanam 10 x 20) dengan rataan jumlah daun 16 helai. Dan yang terendah pada perlakuan A1 (jarak tanam 10 x 10) dengan rataan jumlah daun 11 helai.
3. Perlakuan jarak tanam berpengaruh pada pertumbuhan jumlah daun yang tumbuh pada tanaman kangkung.
4. Jarak tanam untuk tanaman kangkung yang paling baik dan ideal adalah dengan jarak tanam 10 x 20 cm.
Saran
Diharapkan untuk Praktikum Ekologi Tumbuhan kedepannya agar lebih ditingkatkan, baik itu dari teknis pelaksanaan praktikum, jalannya praktikum di lahan penelitian, dan cara penyampaian materi kepada para praktikan agar para praktikan lebih memahami makna dan tujuan dari praktikum tersebut dan menambah ilmu pengetahuan dan wawasan dari praktikan sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Musa Y., Nasaruddin, M.A. Kuruseng, 2007. Evaluasi produktivitas jagung melalui pengelolaan populasi ta-naman, pengolahan tanah, dan dosis pemupukan. Agrisistem 3 (1): 21 – 33.

Ong, H. C., 2007. Sayuran Khasiat Makanan dan Ubatan. Shamelin Perkasa. Kuala Lumpur Plantus, 2008. Kangkung si-Anti Racun. Utkampus. Bandung.

Pupon. (1992). Manfaat Tanaman Kangkung Darat. Sinar Tani.

Rukmana, R., 1994. Seri Budidaya Kangkung. Kanisius. Yogyakarta.

Suyono, J., 1997. Pengaruh Kekurangan Nutrisi Pada Pertumbuhan Tanaman kangkung air. Universitas Cendrawasi. Jayapura.

Wikipedia, 2007. Kangkung (Ipomoea reptans). http://id.wikipedia.org/w/index.php? title=Ipomoea&action=edit&redlink=1


.











Lampiran 1 : Perhitungan Rata-rata Tinggi Tanaman (cm) tanaman kangkung

Tabel 1 : Data Pengamatan Rata-rata Tinggi Tanaman (cm) tanaman kangkung
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
A1 24 23 13 60 20
A2 25 23 24 72 24
A3 25 29 30 84 28
Total 74 75 67 216 24

FK : 5184
JKT : 186
JKP : 96
JKB : 12,67
JKE : 77,33
Sumber
Keragaman Db JK KT F Hitung F Tabel
0,05 0,01
Perlakuan 2 96 48 2,48tn 6,94 18,00
Blok 2 12,67 6,33 0,33tn 6,94 18,00
Galat 4 77,63 19,33
Total 8

KK : 18,32%







Lampiran 2 :Perhitungan Rata-rata Jumlah Daun (helai) Tanaman Kangkung

Tabel 2 : Data Pengamatan Rata-rata Jumlah Daun (helai) Tanaman Kangkung
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
A1 12 12 9 33 11
A2 14 15 12 41 13,67
A3 14 19 15 48 16
Total 40 46 36 122 13,56

FK : 1653,78
JKT : 62,22
JKP : 37,56
JKB : 16,89
JKE : 7,78
Sumber
Keragaman Db JK KT F Hitung F Tabel
0,05 0,01
Perlakuan 2 37,56 18,78 18,78** 6,94 18,00
Blok 2 16,89 8,44 4,34tn 6,94 18,00
Galat 4 7,78 1,94
Total 8

KK : 10,27%
StumbleDeliciousTechnoratiTwitterFacebookReddit

0 komentar:

Categories

Bagaimana menurut anda blog ini?

Jam

Jadwal Waktu Sholat

ShoutMix Chat


ShoutMix chat widget

Sitemeter

Daftar Pengunjung

Amazon MP3 Clips

Langganan Artikel

Change Language